Rabu, 04 Januari 2017

HANTAM INTOLERAN GOLONGAN DENGAN IDEOLOGI BANGSA



“Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat. Tetapi milik kita semua dari sabang sampai merauke!” Soekarno.

Meneguhkan, bukan sekedar dengan menonjolkan simbol-simbol, atau sibuk dengan aksi provokatif. Menyudutkan dengan tujuan penyebaran dan menunjukkan eksistensi golongan tertentu.

Paradigma secara subjektif yang dihadirkan. Dapat menimbulkan cara pemikiran kognitif yang melahirkan persepsi pembenaran dari suatu paham atas penyebaran ajaran.

Bentuk setiap ajaran pastilah memiliki tujuan. Baik itu untuk pembuktian, pembenaran, maupun perubahan. Tertuang sebagai pengubah daya pikir, sikap dan berprilaku.

Para kaum proletar yang dengan mudah terhasut dengan suatu ideologi atau keyakinan tertentu. Melahirkan permasalahan fundamental serta radikalisme atas suatu paham.

Masalah intoleransi yang dilahirkan kelompok radikal inilah. Seakan menjadi penghias dan menyebar dalam kehidupan sosial, dimanapun dan kapanpun.

Ditambah dengan kebodohan individu tanpa kekayaan intelektual dan miskin ilmu yang kerap menjadi sasaran brain washing dari golongan penghasut.

Rakyat Indonesia sebenarnya sudah memiliki patok idelogis tersendiri dalam menghadang kelompok intoleran yang mencoba mengusik kesejahteraan berbangsa dan bernegara.

Salah satu patokan itu adalah isi pidato Bung Karno. Disuarakan dan dinyatakan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 1 Juni 1945.

“Saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang disini. Maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam. Semuanya telah mufakat, bahwa bukan Negara demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu Negara buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi buat semua”.

“Kita mendirikan Negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!”.

Jangan pernah kencingi Indonesia dengan perbedaan. Namun hantam segala perbedaan dengan persatuan dan keberagaman yang dimiliki Indonesia.

Lawan dan hancurkan provokasi yang dapat memecah belah kebhinnekaan bangsa. Dengan tetap berpegang teguh serta bersandar pada satu ideologi, yaitu Pancasila.

Dengan kata lain, rakyat Indonesia perlu mawas diri dan kritis dalam menyikapi berbagai permasalahan. Serta gerakan radikal golongan tertentu yang  mencoba menghancurkan Tanah Air didalam bermacam keberagamannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar